Ratusan Mobil Angkutan Barang dan Hewan Masih Berseliweran Angkut Karyawan PT RAPP, Polisi Tutup Mata

0 259

RIAU (LK) – Praktek tidak memanusiakan manusia masih terus berlangsung di Kota Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan. Ratusan mobil pengangkut barang dan hewan setiap harinya berseliweran mengangkut karyawan sub kontraktor PT Riau Pulp and Paper (RAPP).

 

Masih terngiang jelas oleh masyarakat Kabupaten Pelalawan tentang insiden tragis yang terjadi pada Sabtu (22/2) sekitar pukul 10.00 WIB. Truk karyawan PT NWR merk Mitsubishi Colt Diesel dengan nomor polisi BM 8699 ZO yang dikemudikan Maranata Zendatu (33) mengalami kecelakaan tunggal dan merenggut 15 nyawa.

 

Ahmad (41), salah seorang warga Pangkalan Kerinci kepada Lintaskriminal.id mengatakan, kejadian tersebut harusnya menjadi pelajaran penting bagi pihak kepolisian dalam penegakan hukum di wilayah Kabupaten Pelalawan, bukannya malah menutup mata dan membiarkan praktek angkutan barang dan hewan beroperasi mengangkut karyawan.

 

“Sudah menjadi rahasia umum bahwa penegak hukum, dalam hal ini polisi merima upeti setiap bulannya, makanya tidak ada yang berani menindak praktek tidak memanusiakan manusia tersebut,” ujar Ahmad.

 

Padahal, menurut Ahmad sudah ada aturan jelas yang melarang mobil angkutan barang dan hewan itu untuk mengangkut orang, akan tetapi apa boleh buat jika penegak hukum pura-pura tidak tahu dengan praktek ini.

 

“Mungkin penegak hukum menunggu tragedi berikutnya terjadi dan merenggut nyawa, mungkin saat itu mereka baru akan bergerak,” ujar Ahmad terlihat ragu dengan pola penegakan hukum di wilayah hukum Kabupaten Pelalawan.

 

Hal senada juga diungkapkan Arul (34), yang juga warga Pangkalan Kerinci mengatakan sederet kecelakaan maut telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir, namun penertiban dari aparat, terutama Polres Pelalawan, terkesan tidak pernah dilakukan secara serius.

 

Kecelakaan serupa dengan PT NWR juga pernah terjadi pada awal tahun 2024 di KM 65 Jalan Lintas Timur Pangkalan Kerinci. Dalam insiden yang melibatkan tiga unit kendaraan itu, dua karyawan subkontraktor RAPP tewas setelah tertimpa mobil bermuatan kayu, sementara 7 orang lainnya mengalami luka serius dan harus dirawat di RS Efarina.

 

“Ini sudah jadi konsumsi publik, Bisa jadi memang ada yang bermain di balik semua ini. Makanya tidak ada penertiban mobil pengangkut barang dan hewan. Padahal sudah sering diberitakan soal kecelakaan mobil angkut karyawan ini, tapi tetap saja dibiarkan,” terang nya.

 

Selain itu, Arul juga mempertanyakan perlakuan perusahaan terhadap para pekerja. Kenapa karyawan ini tidak difasilitasi dengan bus? Mereka juga manusia. Tenaga mereka diperas dari pagi sampai sore, tapi ketika berangkat dan pulang kerja, tidak diberi kendaraan yang layak.

 

“Bukankah semestinya mereka diangkut dengan bus seperti karyawan RAPP lainnya?, sehingga bisa dianggap pihak perusahaan telah memanusiakan manusia,” tutupnya.

 

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi baik dari pihak kepolisian maupun dari pihak PT RAPP terkait angkutan barang dan hewan dijadikan sebagai angkutan karyawan tersebut.

 

 

Penulis : Yusman